Selasa, 09 Mei 2017

Langkahnya Lebar dan Gegas



Langkahnya lebar dan gegas. Ia tak berusaha menyamakan langkahnya denganku. Aku sedang ogah mengikuti dan memilih menikmati hutan itu dengan langkah biasa.

Ia berjalan terus. Kubiarkan jarak merentang. Kupotret punggungnya yang menjauh itu. Akhirnya aku menyadari benar, berbalik dan menyamakan langkah denganku, baginya, menjadi hal yang tak mungkin.

(6 Maret 2017)

Minggu, 07 Mei 2017

Pertemuan Itu Mahal



Apa yang paling mahal di dunia ini?
Intan? Berlian? Pulau?
Bukan.
Waktu.

Ngapain sih mikir ginian?
Yah, namanya juga aku suka naro otak di mana aja—keseringan di dengkul.  Jadi, selagi bisa mikir, apaan juga dipikir.

Ceritanya sih mulanya aku kepengin ketemu seseorang. Mumpung April ini banyak libur panjang. Taapiiii... taruhannya bisa ratusan ribu atau sekian juta rupiah ditambah kepercayaan dan kesempatan proyek berikutnya.

Lah, kok gitu?

Ya iya gitu. Kalau dia pilih untuk ketemu aku, berarti dia tidak bekerja. Kalau dia tidak bekerja, berarti dia melewatkan kesempatan mendapat jutaan rupiah.

Well, pertemuan kami mahal banget ya?
Hahaha. Gitulah.

(24 April 2017)

Sabtu, 06 Mei 2017

Kaka Semangka dan Zaza Piza



          : Aprie

Di Negeri Hujanbungabunga, Kaka Semangka murung duduk di atas batu. Ia berasal dari keluarga Seiris Semangka Segitiga.
Mengapa Kaka Semangka murung?
Ah, kaulihat saja. Tubuhnya dipenuhi totol-totol hitam!
Kaka Semangka menjadi tidak percaya diri. Menurutnya, karena totol-totol itu ia jadi tidak cantik. Hingga Kaka Semangka bertemu dengan Zaza Piza.
          “Ngapain kamu duduk kayak buah nggak berguna begitu?” tanya Zaza Piza.
          Kaka Semangka mendelik. “Aku punya banyak totol hitam!” serunya gusar.
          “Hah? Kau ini bodoh atau apa? Itu kan kehidupan!”
          Kaka Semangka tidak terima dibilang bodoh oleh Zaza Piza, tetapi ia sekaligus tidak mengerti kata-kata Zaza Piza.
          “Gini ya, Kaka Semangka, sahabatku,” kata Zaza Piza, “kaulihat aku? Aku juga sepertimu dan aku punya banyak totol! Lihat totolku bermacam-macam: daging Sapisapi, Gugung Jagung, Mumur Jamur, Riri Paprika, dan lainnya. Mereka harus mati untuk dijadikan totol di tubuhku. Lalu kau, lihat dirimu! Totolmu itu biji! Biji yang kalau disebar akan menjadi semangka baru! Itu kehidupan, buah bodoh!”
          Kaka Semangka terkejut kemudian sebentar dia merasa sedih mengingat kehidupan Gugung Jagung, Sapisapi, Mumur Jamur, dan Riri Paprika yang sudah selesai. Mereka kini menjadi totol di tubuh Zaza Piza—di luar kemauan Zaza Piza.
          “Ah, tampang apa sekarang itu?” tanya Zaza Piza. “Kau sedih? Tidak perlu. Sapisapi, Gugung Jagung, Mumur Jamur, dan Riri Paprika sudah bahagia. Sebentar lagi pun kita pasti mati dan hidup dalam tubuh manusia. Begitu memang misinya.”

(22 April 2017)  

Minggu, 20 November 2016

(Ulasan) Kisah Rambut Palsu Mozart untuk Ata

Abi menutup buku Seri Digby dan Hester di Pasar Antik: Kisah Rambut Palsu Mozart karya Gerry Bailey dan Karen Foster. Mestinya Mama yang membacakan buku ini untuk Ata, tapi Mama sedang flu berat malam ini. Tadi Mama mengirim kode mata Mama sedang flu berat, tolong gantikan Mama membaca untuk Ata. Ata tidak tahu sih kode itu karena Mama diam-diam memberikan kepada Abi. Ata hanya mengerti bahwa yang membaca malam ini adalah Abi.

Sampul depan Seri Digby dan Hester di Pasar Antik: Kisah Rambut Palsu Mozart karya Gerry Bailey dan Karen Foster
(Foto: pribadi)

“Jadi, buku ini menurut kamu gimana?” Bagian yang paling Abi suka adalah membahas buku. Ata sudah hafal. Ata tadi menyimak dengan baik dan sudah siap berkomentar.

“Ata suka Digby. Kalau Ata sudah 7 tahun, Ata mau seperti Digby. Kolektor barang antik,” sahut Ata.

“Memang kamu tahu, kolektor itu apa?” tanya Abi agak mengejek.

“Tahu. Mama bilang, kolektor itu orang yang mengumpulkan sesuatu untuk dikoleksi.” Melihat ekspresi Abi, Ata cepat-cepat melanjutkan, “Mama sudah pernah baca untuk Ata. Tapi Ata mau lagi. Nanti kalau Ata sudah bisa baca sendiri, Ata mau baca setiap hari.”

Abi hanya mengangkat alis.

“Abi suka sama siapa?”

“Di buku ini?” Ata mengangguk. “Mr Rummage. Keren banget. Punya kios yang penuh dengan barang yang bikin penasaran. Tahu cerita dari benda-benda itu lagi. Di buku ini, misalnya, dia punya rambut palsu Mozart dan tahu kisah Mozart! Jadi aja cerita tentang hidup Mozart di sana.”

“Ata suka banyak gambar.”

Gambar kios Mr Rummage
(Foto: pribadi)

“Iya, buku anak-anak memang asyiknya banyak gambar. Hurufnya juga besar-besar. Sampulnya tebal dan desainnya bagus. Biar anak-anak suka baca.”

“Ata suka baca.”

“Dibacain, maksudnya?”

“Ya nanti kalau Ata sudah sekolah, Ata baca sendiri, Bi. Ata bacain deh buat Abi.”

“Iya, iya, lanjut bahasnya. Sebelum dibacain Mama, Ata berharap apa dari buku ini?”

“Ceritanya Digby. Habis, Digby itu suka banyak cerita kalau sudah ke pasar antik. Mozart-nya juga suka sih… kan biasanya cuma dengar lagunya tuh.”

Abi mengangguk. Mama sebentar-sebentar melap hidungnya. Mama mau ikutan bahas, “Menurut kamu, sllrpp—”

“Menurut Abi, Mama nggak usah ikutan,” ujar Abi tegas. “Mama tidur aja.”

Mama mengabaikan Abi dan tetap bertanya pada Ata, “Menurut Ata, ceritanya menarik?”

“Menarik. Ada cerita Digby-nya, ada cerita Mozart-nya,” jawab Ata.

“Maksud kamu, ada fiksinya, ada nonfiksinya?” Abi memperjelas.

Ata memandang Mama. Bahasa Abi susah menurutnya. Mama paham, “Iya, cerita Digby itu fiksi. Artinya cerita karangan. Kalau kisah hidup Mozart yang ditulis di bagian ini (Mama membukakan bagian tertentu) namanya nonfiksi.”
  
Ini bagian nonfiksi yang dimaksud Mama
(Foto: pribadi)

“Akhir ceritanya bagus, Ata?” Abi kembali ke pembahasan. Abi memang orang yang fokus kalau sudah membahas sesuatu.

“Ata suka. Hester ngeledekin Digby—dan mereka akan main lagi ke tempat Mr Rummage untuk cerita baru.”

“Habis Ata baca, Ata dapat manfaat apa?”

“Ya, Ata tahu tentang Mozart dong, Abi. Tapi nggak ngebosenin. Seru!”

“Berapa bintang untuk buku ini—1 sampai 5?”

“Lima!” Ata menunjukkan kelima jari kanannya yang kurus panjang. “Abi?”

“Yap. Sama. Lima.”

“Yay!” Mereka tos-tosan.

“Terus, kalau kamu misalnya ketemu sama penulis bukunya, kamu mau ngapain?”

“Mau minta bikinin cerita untuk Abi.”

“Untuk Abi?” Abi senang sekali Ata bilang begitu.

“Iya. Bikinin cerita tentang jenggotnya Abi.”

“Yeee.. emang jenggot Abi palsuuuu... .” Abi mengelus-elus jenggotnya. “Sini tangan Ata. Elus jenggot Abi yang superkeren ini.”

“Nggak mauuuu… .”

“Sini, sini.” Abi malah menggosokkan jenggotnya ke wajah Ata.

“AAKKKK~ MAMAAAA~,”Ata berteriak-teriak kegelian. Mama makin nggak bisa tidur.
  
Gambar pasar antik yang dikunjungi Digby dan Hester, ditambah gambar tokoh-tokoh dalam buku ini
(Foto: pribadi)
Identitas buku:
Judul: Seri Digby dan Hester di Pasar Antik: Kisah Rambut Palsu Mozart
Penulis: Gerry Bailey dan Karen Foster
Pengalih bahasa: Septina Yuda (editor: Gabriella Felicia)
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Kota, tahun: Jakarta, 2008


(tulisan yang diikutsertakan dalam Reading ChallengeNovember 2016 Monday Flash Fiction)

Rabu, 16 November 2016

(Ulasan) Peninggalan Benda dan Nonbenda dalam Warisan karya Chairul Harun

         Kesan pertama setelah aku menutup buku Warisan karya Chairul Harun adalah kok bisa aku baru tahu sekarang ya?
  
Halaman depan Warisan karya Chairul Harun


Penyajiannya asyik seperti kau sedang mendengarkan kakekmu bertutur. Kisah dalam Warisan dijalin begitu memikat, tumpat. Novel ini hanya mengambil satu episode ketika Rafilus pulang ke kampung halamannya di Kuraitaji, Sumatra Barat, hingga tugasnya di sana selesai dan ia kembali ke Jakarta. Meski demikian, cerita tak sesederhana itu. Konflik berupa intrik mendapat warisan dikemukakan secara apik oleh penulisnya.   

Rafilus datang dari Jakarta ke Kuraitaji sebagai utusan dari ibu dan adik-adiknya untuk menjemput ayahnya, Bagindo Tahar, yang sakit keras. Ia berencana mengobati ayahnya hingga sembuh di Jakarta. Sayangnya, ayahnya tak menghendaki demikian.         

Ayahnya tak dapat meninggalkan adiknya, Siti Baniar, dan kemenakannya—anak dari Siti Baniar—Sidi Badaruddin yang pula sakit keras. Ketiganya dijadikan satu kamar dengan tiga tempat tidur yang berbeda. Ketiganya digadang-gadang akan meninggal dan banyak orang berharap warisan harta benda atas mereka. Rafilus akhirnya tinggal sementara untuk mengurus mereka.

Selama merawat itulah, Rafilus bertemu dengan berbagai macam manusia di sekitar hidup ayahnya. Mereka yang tulus dan mereka yang datang dengan mengada-adakan hubungan darah, berharap mendapat bagian warisan bila Bagindo Tahar wafat.

Mulanya kupikir aku akan dapat menemukan budaya Minang yang kental agama. Nyata dalam novel itu disajikan sisi lain wajah Minang. Rafilus yang berpendidikan, tinggi-tampan, dan calon pewaris Bagindo Tahar bukan tokoh sempurna. Ia dapat diandalkan untuk mengurusi keluarga besarnya—dan memang bisa memimpin. Namun, tetap saja ia lelaki yang dapat sewaktu-waktu memuaskan berahi tanpa harus menikahi terlebih dulu. Upik Denok, Arneti, Maimunah, dan Farida merupakan perempuan-perempuan yang ditidurinya.

Entahlah, aku jadi bertanya-tanya, apa novel ini mendekonstruksi atau hanya memaparkan kenyataan?

Rafilus yang orang kota dan sudah memiliki harta yang cukup itu tidak memerlukan uang lagi dari ayahnya. Namun, ia sejak SMP tidak salat dan hanya salat ketika ayahnya meninggal. Dalam mataku, orang Minang itu taat salat. Ini tentu tidak sesuai dengan pikiranku.

Hal lain yang membuat aku heran, misalnya pandangan tentang hubungan perempuan dan laki-laki. Melalui Ajo Pekok, Mamak kandung Farida, tampak budaya macam ini:
"Ada yang tidak kauketahui tentang negerimu ini. Seorang perempuan cantik seperti kemenakanku baru merasa malu kalau selama hidupnya hanya kawin dengan seorang laki-laki. Kalau seorang laki-laki ingin punya beberapa orang istri, maka perempuan juga ingin punya beberapa orang suami. Bedanya, perempuan tidak bisa sekaligus.” (hal. 91)

Aku lantas teringat ada salah seorang yang masih berikatan keluarga di Riau yang heran ketika tahu ibuku hanya menikah dengan bapakku.

Rasa tidak habis pikir itu dijawab di paragraf berikutnya:

… Di atas permukaan, dalam kehidupan masyarakat, semuanya tampak demikian ketat, demikian fanatik dengan nilai-nilai adat serta kesusilaan. Tetapi jauh di bawah mengalir dengan deras arus kebebasan untuk menikmati kehidupan duniawi. (hal. 92)

Oke. Itu bukan fokus novel ini sebetulnya. Aku tertarik saja menemukan fakta begitu. Fokus novel, sebagaimana judulnya, adalah warisan. Seorang bangsawan akan meninggal. Sudah pasti hartanya banyak. Begitu kan?

Sayangnya, tiap orang harus menghadapi pengertian lain terhadap simbol warisan ini. Warisan, bagi Bagindo Tahar, adalah:
 "… Semua mereka beranggapan yang dinamakan warisan adalah harta benda,  sedangkan aku berpendapat warisanku adalah darah perangai serta semangatku.  Seluruh anakku telah menerimanya. Tetapi masih ada anak-anakku yang      beranggapan belum menerima warisanku. Tentu mereka mengharapkan harta.    Kauberikan pada mereka.” (hal. 106—107)

Menarik.

Membaca novel ini, tampak penulis piawai mengikat konflik satu dengan yang lain. Mulanya mengingatkan aku pada Ledakan Dendam-nya Agatha Christie yang membahas keserakahan manusia hingga terjadi beberapa pembunuhan. Cuma ya… latarnya Mesir. Sementara itu, Warisan berlatar Sumatra Barat--dan nggak ada pembunuhan.

Selama membaca novel ini, kuharap kau tidak jauh dari KBBI. Pasalnya, bahasa yang penulis gunakan banyak arkais. Perbedaan masa memang tak bisa dibohongi, ya? Kau harus sezaman untuk dapat memahami perbendaharaan kata. Selain itu, aku yang Jawa tidak dapat mengerti benar beberapa hal semisal sistem kekerabatan di Sumatra Barat. Aku cenderung mengabaikan hal ini dan tetap melanjutkan baca. Ya memang, penulis sudah berbaik hati membuatkan keterangan di akhir buku, tapi tetap saja kau harus duduk di depanku lalu jelaskan kepadaku, baru aku ngerti. Hahahaha.
  
Keterangan yang diberikan penulis di akhir buku
Identitas buku:
Judul: Warisan
Penulis: Chairul Harun
Penerbit: Pustaka Jaya
Kota, tahun terbit: Jakarta, 2002 (cetakan kedua)