Minggu, 06 Agustus 2017

Pulau Leebong (Leebong Island)

      Sebetulnya nama asli pulau ini adalah Klebong yang berarti kelabang. Menurut Bang Geryl, hospitality and event manager Pulau Leebong, pulau sekitar situ memang dinamai dengan nama hewan. “Pulau itu (menunjuk pulau terdekat) namanya Pulau Rengit yang artinya nyamuk kecil,” katanya suatu sore ketika aku duduk sendiri dan teman-temanku asyik bermain kayak.
Paduan warnanya itu lho, suka!

***
     Aku lupa sih sejak kapan kami merencanakan akan ke Belitung, yang jelas, kami mulai menabung dan mencicil tiket pesawat dsb mulai Maret 2017 (untuk pergi 28—31 Juli 2017). Imas Uliyah, sang pembuat itinerary, menawarkan Leebong kepada kami. Daya tarik pulau itu kepadaku jelas: rumah pohon (tree house)! Cumaaaa... mulanya aku agak ragu. Mahal banget, bo! Semalam menginap di rumah pohon itu: 4,8 juta!
     Singkatnya, kami setuju tuh menginap di situ. Mahal nggak apa-apalah. Sesekali. Tanpa tahu fasilitas yang akan kami dapat. Yes, aku mikir nginep doang di situ.

1.   Rumah pohon (tree house) bernama Zara Villa
Ternyataaaaa, di luar ekspektasi, pemirsa. Nggak menyesal kami pilih leyeh-leyeh di sana. Kami dapat rumah pohon (tadinya sempat nggak bisa tuh karena ada yang udah booking). Rumah pohonnya nggak seperti rumah Tarzan itu, nggak. Seperti kamar hotel yang ditangkringin di atas pohon. Kira-kira begitu. Hihihi.
Di Zara Villa, nama rumah pohon itu, terdapat satu tempat tidur besar, satu sofa bed, kamar mandi di dalam (dilengkapi dengan shower dan hair dryer), minum, teko, dan handuk. Terus, terus, ada balkon yang menjorok ke atas juga. Pemandangan kece deh dari situ.
     Selain rumah pohon, mereka punya juga sih pilihan vila yang lain. Cek aja di sini.

Tampilan keseluruhan rumah pohon (tree house) Zara. Ketje, kaaan?

Tangga menuju kamar.


Ini tampilan kosongnya. Alhamdulillah cerah, jadi fotonya jelas deeeehh.
 
Balkon atas rumah pohon.

Hair dryer di kamar mandi

Kamar mandi di rumah pohon.


2.   Makan malam dan sarapan
Kalau kita datang siang, seperti kami kala itu, kita akan disambut dengan handuk dingin. Rasanya segar banget, euy! Habis itu, makanlah kita. Cumaaa, untuk makan siang, nggak termasuk fasilitas mereka. Jadi yaaa, kami bayar tambahan lagi. Sekitar Rp500.000,00 untuk berempat. Tapiiii, kamu nggak bakal menyesal karena rasa masakannya juara! Enak banget. Delapan jempol—jempolku dan teman-temanku—untuk Chef Santo. Chef Santo ini udah keliling dunia lho. Jadi ya, nggak usah diragukan lagi rasa masakannya.
 
Menu makan siang: nasi, baso ikan dan otak-otak, ikan bakar, tumis tauge, ayam bumbu, cumi goreng tepung, dan pepes ikan. Imas paling suka pepes ikannya karena selain bumbunya khas (ada nanasnya), pepes ikan ini menggunakan daun simpur, daun khas Belitung, sebelum aluminium foil. Mutia dan aku suka cuminya. Aku juga suka baso ikannya sih. Sambalnya juga mantap dua-duanya (ada dua jenis). Nuniek suka semuanya. Hahaha.

Chef Santo, yang sudah selesai aktivitas di dapur, biasanya akan keluar menemui penikmat karyanya. Nah, paling seru ketika menemui kami. Dia promo sekaligus menantang kami, “Kalau kamu nginap di sini, kamu mau request makanan apa, saya masakin deh. Tinggal bikin list-nya.” Dia bicara begitu, karena tamu yang lain hanya pulang pergi ke pulau itu.
Ditantang begitu, dengan sigap Imas menyahut, “Wah, kebetulan tuh, Chef. Malam ini kami nginap di sini.”
       Chef langsung tepuk jidat. “Waduh, mati gue! Kirain yang menginap bukan kalian.”
Hahahahahaha. Otomatis kami tertawa. “Jangan mati dulu, Chef, saya bikin list dulu,” aku menimpali. Tampang kami nggak meyakinkan untuk menginap kali ya. Kinyis-kinyis gimana gitu. Hahaha.
Well, akhirnya inilah makan malam kami: barbeque ala Chef Santo.
 
Menu makan malam: nasi, tumis sawi, sambal dua macam, ayam bakar, cumi bakar, sate udang, baso ikan dan otak-otak, dan ikan tauco (entah campuran yang lainnya itu apa). Oh ya, jus buah naga. Jusnya mantap. Pas, nggak kemanisan. 

Untuk sarapan, kami diberi pilihan: makanan ringan seperti churros dkk atau makanan berat seperti nasi goreng dkk. Kami pilih churros. Jadilah kami sarapan churros, pisang kipas, dan otak-otak. Favoritku otak-otaknya. Wuenak. Ya karena dasarnya aku lebih suka makanan gurih daripada manis sih. Hehehe.

Kiri ke kanan: churros pakai saus susu coklat, sate otak-otak, dan pisang kipas. Enyak-enyak-enyaaak.

Oh ya, teh, kopi, dan air putih minum bebas yes. Kapan aja bisa deh itu. Selalu ada di restoran.

3.   Banyak pilihan aktivitas
Selama di sana, banyak hal yang bisa kita lakukan. Mereka sedia kano, kayak, voli pantai, hammock di pantai, bangku santai, berenang, bersepeda keliling pulau, karaoke, dan lain-lain. Lepas makan siang, kami ke kamar untuk bersih-bersih diri. Habis itu? Tidur. Wakakakaka. Capek sih.
Kami baru keluar sore hari. Agenda kami adalah bersantai di lazy bed. Yap, kami bawa lazy bed dari Jakarta. Sayangnya, angin tidak terlalu kuat sore itu. Lazy bed kami tidak mau gendut. Gagal deh santai-santai di lazy bed. Teman-temanku lalu beralih main kayak menuju hammock—sore itu air pasang, jadi hammock-nya terkesan berada di tengah laut. Aku yang malas basah-basahan, memilih duduk di bangku santainya saja.
  
Dipanggil "Emak" gara-gara ogah nyemplung sore itu dan cuma duduk-duduk gini aja.

Ini waktu mencoba mengisi lazy bed dengan angin.

Gembira banget yaaaa~

Mutia bersantai di hammock.

Bermain kayak.


Selesai makan malam, agendanya adalah api unggun. Sayang, kayu bakarnya basah karena malam sebelumnya turun hujan. Jadi kami pilih karaoke deeeehhhh. Lagu yang dipilih? Lagu tsurhatan mulu! Dasar wanita.
 
Ekspresif banget!
Selain kami, ada juga yang menikmati karaokean.

Pulang dari karaokean di restoran, kami bersepeda menuju rumah pohon.
 
Pulang karaokean

Pukul 04.00 keesokan harinya kami bangun untuk menyambut kelahiran matahari. Sebenarnya itu kepagian sih karena matahari terbit itu pukul 05.20. Ditemani Kris dan Yadi, staf Leebong, kami bersepeda menuju bagian lain pulau guna melihat sunrise. Sambil menanti matahari terbit, kami menikmati bintang yang cantik betul, seolah bisa kami gapai dengan tangan. Selain itu, di situlah pertama kalinya aku salat Subuh di pantai. Tambahan pula, habis itu kami yoga ala ala. Nikmaaaat sekali.
 
Ke mana ini orang-oraaang?

Nggak ada penantian yang sia-sia eh?

Aku dan Nuniek ceritanya kelahi.

Yoga ala-ala.

Banyak bayi kepiting!


Habis menyambut matahari lahir, kami mencoba lagi mengisi lazy bed dengan angin. Kipas angin, tepatnya. Wakakaka. Ide jeniusnya Kang Yadi. Yay, jadi bersantai! Alhamdulillah!
 
#Timrempongrempongbahagia

Untuk malas-malasan kayak gini, perlu usaha! Wakaka.


4.   Antar-jemput dari Tanjung Ru
Ini nilai plus lain untuk Pulau Leebong. Sudah disiapkan perahu motor untuk mengantar dan menjemput kami dari Pelabuhan Tanjung Ru. Coba kalau sewa sendiri, bayarnya sekitar sejuta pulang pergi. Btw, nggak ada fotonya nih. Nggak apa-apa ya. Hehehe.
  
5.   Pulau Pasir Putih
Pulau ini tidak berpenghuni. Jangankan manusia, pohon aja nggak ada di sini. Pulau ini masih asuhannya Pulau Leebong. Disiapkan bangku santai dan ayunan. Mau gelundungan juga bebas. Toh, cuma kami berempat (eh, ditambah bang sopir perahu deh).
 
Selena Gomez mah bebaaaas~

Hymn for the weekend. Yay!

Model kalender bulan Juli.

Isi pulau ini cuma kami berempat. Bebaaass~

"Nieeekkk, tungguiiinnn~ banyak rumah bayi kepitiiing. Kalau diinjak, nanti mereka merasa gempaa~"

Hajiyejiyejiyee~

Di balik sebuah foto yanng bagus, ada Imas dan Mutia yang ngurek-ngurek pasir untuk naro kamera. Danke, Imas, Mutia! *cups*


6.   Tim yang ciamik
Satu hal yang aku apresiasi, dan ini kuhitung sebagai harga, adalah servis dari para staf. Mulai dari Tanjung Ru, kami disambut kapten perahu motor berkaus “I love Belitung”. Sesampainya di Leebong, barangkali nakhoda sudah kontak orang Leebong, kami disambut oleh laki-laki berkaus merah (bertuliskan “I love Belitung”) yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Dana. Alat komunikasi yang digunakan Dana keren. Harga, tjuy. Oh ya, nggak usah khawatir dengan barang bawaan. Sudah ada staf yang membawakan ke penginapan.
Sampai di titik tertentu, kami disambut Yadi—yang lagi-lagi berkaus “I love Belitung”. Dia yang mengantar kami hingga ke restoran. Di restoran, kami disambut Geryl. Karena fokus ke handuk dingin, aku lupa Bang Geryl pakai baju “I love Belitung” juga atau nggak. Hahaha. Kayaknya sih warna putih.
Waktu aku duduk sendiri di bangku santai sementara teman-temanku main kayak, aku diajak ngobrol oleh Bang Geryl. Aku jadi teringat bos di tempat kerjaku yang selalu meminta kami untuk tidak membiarkan siswa duduk sendiri: mesti ditanya atau diajak ngobrol biar dia nyaman. Itulah yang dilakukan Bang Geryl, mengajak ngobrol. Ketika Bang Geryl harus pamit mengantarkan tamu yang pulang, Pak Yudi, yang ternyata owner, yang gantian menemaniku ngobrol. Ntap soul.
Job desc staf di Leebong ini kayaknya jelas banget. Ada yang melalukan pengasapan (fogging) di sore hari untuk mengusir nyamuk dan serangga lain, ada yang membawa barang-barang, ada yang menemani tamu, ada yang di dapur, ada yang di restoran, ada yang di konter suvenir, ada yang menyapu pulau, hingga ada yang membersihkan bangku-bangku! Tahu nggak, batang-batang pohon yang difungsikan sebagai bangku, itu pun dilap! Keren banget mereka!
Gimana bisa aku nggak betah coba?
 
Bangku-bangku begini juga dibersihkan lhoo!

7.   Beberapa saran
Karena tulisan ini merupakan tulisan seenak udelku, tidak diminta oleh pihak Leebong atau siapa pun, aku bicara apa adanya. Ada beberapa saran, baik untuk pihak Leebong atau tamu yang akan datang. Nih.
a.    Kontak person kami adalah Pak Rio. Nah, salahnya kami adalah tidak minta nomor kontak staf situ. Karena di kamar tidak ada telepon dan jarak antara rumah pohon dengan asrama karyawan cukup jauh, kami agak susah untuk meminta sesuatu. Jadilah kami kontak Pak Rio—yang tidak tinggal di situ—bila ada perlu. Untuk kasus ini ada dua solusi: pihak Leebong menyediakan telepon di kamar atau yaaa si tamu inisiatif minta nomor kontak staf.
b.   Stop kontak di kamar ditambah. Atau, minimal disediakan colokan tambahan. Kami yang turis ala ala ini, biasanya mengisi baterai power bank dan ponsel kami pada malam hari. Bersamaan. Wakakaka.
c.     Televisi yang untuk karaoke sering hitam sendiri. Kami yang nggak hafal lirik, harus nunggu sejenak sampai dia nyala lagi. Hehehe.
d. Kualitas sepeda lebih diperhatikan. Sepeda yang kunaiki pedalnya agak susah dikayuh, jok sepeda Imas miring. Lebih oke bila ditambah lampu biar lebih terang ketika menuju titik lihat sunrise.
e.  Apabila tidak memungkinkan menambahkan lampu di sepeda, paling benar ya menyalakan lampu jalan menuju ke bagian pulau untuk melihat matahari terbit.
f.     Teruuuuss, mbok ya kami jangan disuruh bangun pukul 04.00 untuk melihat sunrise sementara belum ada satu orang staf pun yang udah bangun. Akhirnya kami mengetuk salah satu pintu karyawan deh.

 ***
Kurang lebih itulah pengalaman kami di Leebong, Belitung. Kalau ditanya, mau ke Leebong lagi nggak suatu saat nanti, jelas aja MAUUUUUU! Hahaha. Udah ngerasain nyamannya sih. Mau ke sana juga? Bolehlah, kami diajak. *teteupppp*


(sumber foto: Imas, Mutia, Ikaf, Nuniek)

11 komentar:

  1. Bagus ya kk.
    Sangat mirip dgn gili.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, baguuuuss.. tapi aku belum bisa membandingkan dengan Gili (kalau yang dimaksud adalah Gili, Lombok).

      Hapus
  2. Suka bgt sama rumah pohonnya. Ketce..

    BalasHapus