Kamis, 27 Februari 2014

Salam Kenal


Teruntuk Astrajingga dan Renny


Halo, halo!
          Sebelumnya aku minta maaf karena surat untuk kalian kujadikan satu. Maksudku, sih, biar kalian saling kenal juga. Hehehe… .

Astra (bisa kupanggil begitu?),
          Aku ingat kamu, kok. Kamu yang membacakan puisi untuk Elwa di Malam Puisi Jakarta, kan?
          
          Tentang puisi “Kangen”-nya Rendra, puisi itu memang layak diapresiasi. Bagus, sih! Aku membacakannya dengan harapan bisa membawa sebanyak mungkin orang agar bisa menikmati.
          Oh, ya, terima kasih atas puisimu. Sayang, aku tak bisa membalas semanis itu… . :(

Renny,
          Kurasa menjadi sebuah kehormatan bila suratku diapresiasi hingga kau membuatkan surat khusus untukku. Aku tersanjung!
          Cinta yang Tidak Kedaluwarsa menjadi judul tulisan yang memuat foto kakek dan nenek yang kuambil secara sembunyi-sembunyi. Surat tersebut terlahir karena aku memang kagum dengan kakek dan nenek itu. Dalam keseharianku, hampir tidak pernah aku melihat orang yang sudah tua menyatakan rasa sayangnya di depan umum.
          Ketika aku menuliskannya, aku berharap aku bisa memberikan apresiasi kepada kakek dan nenek itu—sekaligus berharap aku dan suamiku (nanti) bisa demikan. Hahaha. Tak kusangka, ternyata aku mendapatkankan bonus: apresiasi yang banyak dari @poscinta dan para pembacanya. Ah, ya, plus dapat surat darimu pula!

Astra dan Renny,
          Tahun lalu aku ikut #30HariMenulisSuratCinta dan mendapatkan banyak teman. Beberapa di antara mereka kukirimi surat tahun ini. Tahun ini aku bisa kenal dengan kalian. Wah!
          Eh, ya, apa kalian datang ke gathering Pos Cinta di Bandung tanggal 9 nanti?
          Aku belum tahu akan bisa datang atau nggak… . :(

Akhirnya,
          Terima kasih banyak Astra, terima kasih banyak Renny! Salam kenal. Yay!


Salam hangat,


Ika Fitriana

Rabu, 26 Februari 2014

Posesif


          Setelah membaca suratmu yang ini dan surat Evi yang ini, aku teringat sahabatku yang kukenal sejak TK. Aku mengenali perasaanmu, Eva. Aku bahagia dan dalam waktu yang sama aku kehilangan. Maklum, kami terbiasa ke mana pun dan melakukan apa pun bersama-sama, terutama waktu SMA. Orang akan heran kalau salah satu dari kami tidak ada.
          Aku masih ingat waktu ia berpacaran dengan salah satu kawan yang satu sekolah. Aku kesal, Eva. Hahaha… barangkali aku egois, aku lupa kalau dia punya hidup sendiri. Aku jadi sering pulang sendiri sedangkan dia bersama pacarnya.
         
          Eva, akhir 2011 ia bilang berencana menikah dengan salah satu teman kampusnya.
          Aku bahagia sekali—dan cemas sekaligus.
          Berbagai kekhawatiran muncul. Kukira perempuan di mana saja, ah tidak, SIAPA PUN, sama: akan protektif terhadap orang yang dikasihinya. Aku sahabatnya, tetapi bukan orang yang selalu ada untuknya. Tidak seperti kau dan Evi barangkali. Aku hanya mengetahui hal yang ia ceritakan kepadaku.
          Dengan mata penuh cinta, ia kerap menceritakan calon suaminya yang belum kukenal baik. Dia akan mengomel bila si kekasih membuatnya kesal dan seterusnya lalu aku memilih untuk menghadap makanan sambil mendengar ceritanya. Kami mempersiapkan beberapa hal terkait pernikahannya, seperti memilih undangan dan mencari suvenir.

          Eva, di mataku dia perempuan dewasa (tidak seperti aku yang kekanak-kanakan) dan dalam penglihatanku bisa kulabeli perempuan yang salihah. Sampai kapan pun aku sadar betul tidak akan bisa sejajar dengannya dalam hal ini. Aku kagum kepadanya.
          Mei tahun 2012 ia menikah. Ia berjalan tanpa aku. Ia selangkah di depanku.
          Aku ini egois, Eva. Nanti aku ke mana-mana akan dengan siapa? Padahal biasanya aku sering lupa kalau aku ini jomblo kala pergi dengannya. Hahaha… .
          Namun, aku teringat waktu sekolah: ia memiliki hidupnya sendiri.
         
          Eva, ia akan bahagia.
          Itu yang selalu aku yakini. Aku datang ke pernikahannya, menginap sejak malam sebelum pernikahannya, menggenggam tangannya tak kasat mata. Bila aku merasa takut, kurasa ia lebih takut menghadapi besok yang mengubah hidupnya.
          Dia akan bahagia.
          Itu selalu aku yakini. Aku sangat berharap lelaki yang amat dicintainya sadar betul bahwa sahabatku mencintainya dan menghormatinya. “Jaga temanku baik-baik, ya! Jangan nakal,” begitu pesanku kepada si Lelaki.
          Mereka menikah.
         
          Sampai berita itu datang.
          Setahun kemudian pernikahan mereka harus berakhir. Kurasa yang retak bukan cuma hatinya. Hati orang-orang yang yang mencintainya itu tentu ikut patah. Termasuk aku.
          Kalau kau pernah berpikir kau tidak akan menikah, pikiran itu pernah juga datang kepadaku. Hidup bersama orang yang kita cintai bukan jaminan kita tidak akan tersakiti. Namun, lihat sahabatku! Dengan gagah berani (kubayangkan ia seumpama Laksamana Malahayati menghadapi Belanda), ia menjalani hidupnya.
          Ia akan bahagia.
          Sahabatku itu.
          Itu yang aku yakini hingga saat ini. Innallaha ma’ana (Allah bersama kita). Aku selalu bilang kepadanya, “Jika tanganku tak kunjung cukup memelukmu, Allah akan selalu bisa merangkul hingga jiwamu.”
          Eva, genggam tangan Evi baik-baik—hal yang tidak selalu bisa kulakukan kepada sahabatku. Menikah memerlukan keberanian yang besar, keberanian untuk menjalani hidup. Bismillah, maka semua baik-baik saja.


Peluk jauh,


Ika Fitriana


n.b.: surat ini kukirimkan dengan seizin sahabatku yang cantik dan hatinya selalu terpelihara. Innallaha ma’ana, Sayang. Selalu kuat.


Selasa, 25 Februari 2014

Fadhli


Kepada Fadhli Amir

Fadhli,
          Suratmu sudah sampai mataku dengan selamat. Aku

Fadhli,
          Membaca rangkaian kata darimu bikin aku sesak napas

Fadhli,
          Membaca barisan kata darimu aku mesti ingat menjejak bumi karena

Fadhli,
          Ya ampun suratmu itu bik

Fadhli,         
          Aku tahu aku ini bidadari dengan sayap portable yang kalau mau naik angkot sayapnya dilipat du

Fadhli,
          Siapa perempuan tidak tersanjung menerima surat manismu, tapi aku sendiri kan sudah man

Fadhli,
          Kamu mau aku ceritain tentang Kalimalang? Jadi, tuh kalinya bukan kasihan, tapi malang (melintang). Itu mulanya

Fadhli,
          Kamu kukenal sebagai seorang Fadhli pecinta puisi

Hai, Fadhli anak matar,

Fadhli,
          Berapa kali pun aku mencoba, suratku takkan pernah bisa berimbang dengan surat manismu.
          Aku tahu ini takkan cukup
          Tapi ya,
          terima kasih
          banyak.


Salam hangat,


Ika Fitriana


Senin, 24 Februari 2014

Nasi Ijo

Tong,
          Jan lu minta nasi kuning ama Emak lu ini. Lu mau tahu sebabnye? Bukan Emak kaga punya duit, Emak cuma takut, Tong. Dari pengalaman Emak nongtonin lampu mere ye, Emak takut nasi kuningnye berubah jadi nasi ijo. Noh, di lampu mere aje lampu kuningnye jadi ijo. Ye, kan?

Tong,
          Inget, ye, belajar keja bener. Jan guru lu lawan. Lawan tuh kumpeni. Lu pan anak Emak yang paling berani. Ye, kan?


          Ude itu aje. Jadi anak pinter, bener, jadi lu bisa beli nasi kuning sendiri yang kaga berubah jadi nasi ijo, ye!

Minggu, 23 Februari 2014

Perempuan Bernama Cobaan

Untuk kekasih orang

Hai, kekasih orang,
          kau tentu tahu aku perempuan yang dilahirkan dengan nama Cobaan. Aku disebut-sebut sebagai pengganggu hubungan orang: orang ketiga.

Hai, kekasih orang,
          kau tentu tahu aku merindumu
          dan kau tentu tahu merindumu merupakan dosa mahadahsyat yang bisa ditimpakan kepadaku.

Hai, kekasih orang,
          aku datang dalam hidupmu, menantang kehidupan cintamu: apa kalian masih bisa berlayar dengan aku sebagai gelombang?

Hai, kekasih orang,
          aku menjelma cobaan karena bosan dengan diam. Aku mewujud pengacau, kuat-kuatlah kau!

Hai, kekasih orang,
          takkan aku mulai pembicaraan denganmu. Pegang saja kontrol kata. Aku akan menyahut bila kau sapa, aku akan bergeming kala kau pergi.

Hai, kekasih orang,
          tidak akan aku menahanmu di sini. Kekasihmu dia, perempuan itu, bukan aku.



Nanti juga aku jatuh cinta lagi.


Sabtu, 22 Februari 2014

Hidup Seperti Biasa

Dini hari, 1 Februari 2014

Hai, kamu,
          Mari kita berjanji. Kita harus bahagia. Jalankan hidup dengan tertawa. Aku akan berkicau ramai di Twitter seperti biasa, mengeluhkan ini-itu seperti biasa, marah-marah kepada siswa seperti biasa, banyak tidur seperti biasa, dan menulis seperti biasa.
          Aku akan hidup seperti biasa dengan sadar bahwa hari ini waktumu. Beberapa jam lagi kau akan resmi menjadi suaminya. Selamat menikah, kamu. Istrimu itu cintamu dan kelak akan kutemukan cintaku. Semoga keluargamu, ah, tidak, keluarga kita masing-masing menjadi keluarga yang samara. Amin.


Salam.

Jumat, 21 Februari 2014

Perempuan yang Hanya Bisa Menunggu

sore pukul enam
seorang perempuan berdiri di pintu
mengharap lelakinya lekas datang

sore pukul enam
ia terus begitu
hingga hari tak terbilang

sore pukul enam
perempuan yang hanya bisa menunggu
menunggu kekasih yang tak akan bisa datang

sore pukul enam
perempuan yang hanya bisa menunggu
menunggu kekasih yang tak akan bisa datang

(12 Februari 2014)

Kamis, 20 Februari 2014

Serat


Uda,
          Kula nyerat serat punika kagem panjenengan sanaos kula ngertos panjenengan boten saged lan boten pirsa basa Jawi. Ngaten.
          Kula kuwatos, Da, babagan basa. Kula ngertos ewah-ewahan niku niscaya, ugi salajengipun, nanging kula tetep ajrih menawi basa kita sedaya lajeng ical sami kaliyan basa ingkang sampun kalelep langkung rumiyin.
          Basa daerah, Uda.
          Langkung-langkung tiyang-tiyang teng Jakarta-miyos ugi ageng teng Jakarta kados kula punika, sampun ngantawis, tebih sanget, saking budaya laluhuripun.
          Uda,
          Langkung-langkung kathah krama campuran. Gesang wonten nagari kita ingkang bhinneka, krama antaretnis punika tansah kaniscayan. Ibu saking suku X, bapak saking suku Y, putranipun teng Jakarta. Bapak saha ibu, amargi kekalihipun benten sukunipun, migunakaken basa ingkang saged dipunmangertos kekalihipun sedaya. Lak nggih mekaten?
          Basa (daerah)nipun piyambakipun sedaya lajeng minggir.               
          Kula kuwatos, Uda.
          Sanajan Uda niku pedantis, panjenengan mestinipun pirsa menawi Betawi punika suku bentukan lan boten mustahil menawi benjing, miyos suku Betawi II (punapa napa kemawon tiyang-tiyang punika maringi nami): titik madya. Boten mustahil menawi basanipun campur lokal kaliyan Inggris, kados Singlish (Singapore English). Niku saged kemawon kedadosan, leres boten?
          Lajeng, punapa ingkang saged dalem tumindakaken?
          Kula matur dhateng panjenengan migunakaken basanipun ibu kawula. Kula ngertos panjenengan boten pirsa artosipun, Da, nanging pitadosa, kula gadhah kapinginan menawi benjing anak kula nepangi basa ibunipun. Mugi-mugi, basa ibu kawula boten lajeng ical sakderengipun anak kula sinau lan nepangi.         
          Lajeng, Da, sumangga, panjenengan nyerat migunakaken basa panjengengan. Kula kinten kula mangke mboten mangertos kadosta panjenengan mboten mangertos lan pirsa serat punika. Boten punapa-punapa. Kula ajeng ndherek tanglet. Mbok menawi wonten tiyang ingkang langkung betahaken serat kita sedaya.
          Uda,
          Cekap semanten serat punika. Matur nuwun.


Salam,

Dalem

Artinya:
Uda,
Apa kabar?
Lama tak bersua.
:))))))))


(terima kasih atas bantuan Keshia dan Larno dalam penerjemahan ke dalam kromo)


Rabu, 19 Februari 2014

Pitoeng

Betawi, 22-11-1892

Oentoek Toean Robyn Hode

Boeah nangka sedap baoenje
Bakal dibawa ke roema mertoea
Ini saija Pitoeng namanje
Anak Betawi dari Maroenda

          Toean bise djadi kaga kenal saija, tapi saija tetep kasi ini soerat bakal toean batje. Saija Pitoeng, Toean. Nama asli saija Salihoen. Saija anak Betawi sini. Toean tahoe-menahoe perichal Betawi?
          Ah, sini saija kasi tahoe.
          Orang Belande kasi nama saija poenja kampoeng Batavia, bagian Hindia Olanda. Saija njamar djadi Demang. Orang2 kenal saija ini Demang Meester Cornelis. Banjak orang kaija dimari, Toean. Meskipoen banjaknja orang kaija, banjak djoega orang njang kaga poenja. Itoe sebab saija tjoeri itoe mereka poenja banda. Bakal saija kasi orang2.
          Katanje mirip sama tjerita hidoep Toean, ja?
          Ntu die, Toean.
          Banjak njang bilang saija mirip Toean koetika denger tjerita tentang saija. Toean katanje djoega tjoeri itoe dari orang2 kaija. Toean lawan itoe sheriff. Saija djoega. Cumanan lawan saija Belande. Namanje Toean Sekotena.
          Nach, karena kite samanje toekang njoeri banda orang kaija teroes kite poenja lawan itoe orang2 pake bedil, saija minta dibagi taktik, Toean. Pigimane tjaranje temen2 saija djoega makmoer di Betawi sini. Negeri, negeri saija. Masak njang djadi djoeragan itoe Belande?

Bang Sabeni dari Tjikini
Naik delman die ke Bekasie
Kiranja soerat sampai di sini
Tjoekoep sekian trimakasie


Selasa, 18 Februari 2014

Lelaki Pembawa Gunung

          Seorang lelaki melontarkan laso ke gunung. Ia lantas berjalan sambil menarik-narik gunung yang sudah ia ikat dengan tali itu.
          Di tengah jalan, Si Lelaki bertemu dengan pria bercaping. Melihat Lelaki Pembawa Gunung, Pria Bercaping bertanya, “Mengapa kaubawa gunung itu dengan tali?”
          “Aku tidak melihat ada gunung di sini,” sahut Lelaki Pembawa Gunung.
          “Loh, lalu itu apa?” tanya Pria Bercaping sambil menunjuk gunung yang diikat dengan tali di belakang Lelaki pembawa Gunung.
          Lelaki Pembawa Gunung menoleh ke arah gunung. “Oh, ini sapi.” Ia lalu berjalan lagi.
          Sampai di persimpangan ia bertemu Ibu yang membawa rantang. Penasaran, Ibu Pembawa Rantang bertanya, “Akan kaubawa ke mana gunung itu?”
          “Aku tidak melihat ada gunung di sini,” sahut Lelaki Pembawa Gunung.
          “Loh, lalu itu apa?” tanya Ibu Pembawa Rantang sambil menunjuk gunung.
          “Oh, ini sapi.”
          Ia lalu berjalan lagi. Ia masih bertemu beberapa orang lagi dan selalu bilang yang dibawanya itu sapi, bukan gunung.
          Matahari mulai rebah kala akhirnya gunung yang sejak semula diam kini bicara. Katanya kepada Lelaki Pembawa Gunung, “Akan sampai kapan kauanggap aku ini sapi padahal kautahu aku ini gunung?”
          Lelaki Pembawa Gunung terus berjalan terengah-engah sambil membawa gunung. Hingga hari ini.

(14 Februari 2014)


Senin, 17 Februari 2014

(Tentang) Gombal Suwek

Bekasi, 25 Januari 2014

Teruntuk Wulan Martina

Wul,
          Aku mau cerita.
          Ada seorang nenek yang menarik perhatianku. Nenek ini berjualan lesehan di pasar dekat Stasiun Klender. Tidak seperti pedagang yang lain, Nenek ini tidak berusaha menarik orang-orang yang lewat. Ia tidak berusaha menawarkan dagangannya semisal, “Beli apa, Bu?” atau apa. Ia pun tidak mencari mata (calon) pembeli—menurut teoriku, pedagang perlu mengadakan kontak mata dengan (calon) pembeli agar si Pembeli menaruh perhatian.
          Si Nenek tidak melakukan itu. Tidak melakukan apa pun selain duduk ndhengkluk, kadang-kadang tidur malah.
          Yang tak kalah menarik, produk jualannya ganti-ganti. Pernah ia jualan melon lalu ganti salak. Beberapa hari kemudian ganti bawang merah, dan seterusnya. Aneh nggak, sih? Menurutku aneh. Biasanya orang akan menjual salah satu (jenis) produk saja.
          Melihat Nenek ini, lantas terlintas di pikiran, “Duh, kasihan Nenek ini. Sudah tua masih harus berjualan di jalan. Ke mana anak dan cucunya?”
          Berikutnya, aku sangsi sendiri. Benarkah aku harus mengasihaninya? Bisa jadi itu yang membuatnya bahagia, kan (karena dia punya kegiatan, dsb)? 
          Selanjutnya, aku teringat orang tuaku. Bagaimana orang tuaku nanti? Bagaimana aku akan memperlakukan mereka? Tidak membiarkan mereka melakukan apa pun hingga alzheimer menyerang (konon orang tua yang tidak memiliki kegiatan justru lebih mudah terkena alzheimer)?
          Aku lantas membayangkan aku. Bagaimana aku akan diperlakukan oleh anak-anakku kelak? Bukankah ada saatnya kita tak berdaya—tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain? Aku kemudian merasa seperti gombal atau kain lap yang sudah nggak bisa dipakai. Jadilah tulisan berbahasa Jawa ini. Mengapa berbahasa Jawa? Entahlah, begitu saja.

Gombal Suwek
aku saiki koyo gombal suwek (aku sekarang seperti kain lap yang sobek)
dadi wong ora kanggo (jadi orang tidak berguna)
arep opo (mau apa pun)
arep nyandi-nyandi (mau ke mana pun)
kudu njawil uwong
njaluk tulung (harus meminta bantuan kepada orang lain)

aku iki gombal suwek (aku ini kain lap yang sobek)
ora enek regane (tidak berharga)
ora iso midhak ning sikile dewe (tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri)

aku gombal suwek (aku kain lap yang sobek)
aku musti kepiye? (aku harus bagaimana?)

paringono ngapuro, Gusti… . (minta maaf, Tuhan)
nyuwun pangapunten, Gusti… . (mohon ampun, Tuhan)



p.s.:
sudah sejak Desember akhir aku tidak melihat si Nenek itu lagi. 


Minggu, 16 Februari 2014

Apa Mesti Mandi?

Dear Mak Carolina Ratri,
          Melalui surat ini aku ingin menjawab pertanyaanmu yang kauajukan melalui twit suatu pagi: “ini memang musti mandi, ya?”



          Menurutku tidak, Mak. Kita tidak mesti mandi. Kenapa?
          Gini, Mak.
          Pertama, kurasa kita sama-sama tahu kalau Indonesia ini negara yang kaya. Kekayaan alamnya melimpah, termasuk air.
          Kedua, melihat hal ini, ada pihak-pihak tertentu yang dengan keji mengeruk kekayaan negara kita. Salah satunya dengan menyuruh manusia Indonesia mandi sehari dua kali. Kalau dalam sekali mandi kita menghabiskan 30 gayung aja, misalnya, seminggu jadi berapa gayung, Mak? Setahun? Sepuluh tahun? 
          Banyak kan, Mak? Iya.
          Air tanah kita lama-lama jadi habis, Mak!
          Konon, di beberapa bagian di Jakarta, air laut sudah mengisi bawah tanah yang kami pijak, lho! Makanya air tanah di daerah tersebut cenderung asin. Kawasan yang air tanahnya masih oke mesti bersyukur dengan tidak membuang-membuang dengan percuma. Ya kan, Mak?
          Sebenarnya untung banget lho, kita punya musim hujan. Karena negeri kita kaya dengan hujan, kita bisa gunakan untuk irit air, Mak. Kalau hujan turun, kita mandi saja di luar. Isi tempat penampungan air kita sebanyak mungkin biar nggak selalu beli air. Coba kalau negara kita bersalju, emang kita bisa pakai buat mandi atau cuci piring?
           (Em, nggak tahu sih, itu hubungannya apa..)

          Jadi, mesti mandi atau nggak?
          Nggak usah, Mak. Mari kita selamatkan lingkungan demi mewariskan yang terbaik untuk anak dan cucu kita dengan irit air! (‘,’)9


Duta air regional Bekasi coret,

Ika Fitriana


Sabtu, 15 Februari 2014

Kekasih dan Sop Kambing

Bekasi, 14 Januari 2014


Barika,
          Aku punya cerita. Ini kisah tentang seorang gadis yang menangis dalam tidurnya dan ia terbangun masih dengan mata menjelma telaga. Sini kuceritakan mimpinya—penyebab ia begitu.
          Ia berada di tengah teman-temannya, Barika. Entah mereka sedang melakukan apa, yang jelas bersama-sama. Hanya si Gadis yang lesu.
          Seorang temannya bilang, “Ah, aku punya kabar!”
          Teman-teman yang lain tertarik, “Apa? Apa?”
          “Kamu juga dengar!” kata si Teman kepada si Gadis. Si Gadis hanya melihat sekilas saja lalu asyik bengong kembali. Temannya cukup tahu kalau si Gadis akan mendengarkan jadi dia melanjutkan bicaranya, “Kekasihmu itu katanya akan membuatkan sop kambing!”
          Mata si Gadis seketika membesar mendengar kata “kekasih”. Ia menoleh kepada si Teman. Meminta konfirmasi.
          “Iya. dia bilang sendiri kepadaku!” si Teman begitu meyakinkan. Lanjutnya, “Dan, kautahu, ia akan mengantarkan sendiri kepadamu! Em, tadinya aku menawarkan untuk dititipkan kepadaku, tetapi ia menjawab ‘tidak’ dan lebih memilih datang menemuimu dengan mengendarai motor.”
          Si Gadis bingung. Dia, si Kekasih, bisa memasak? Pun bisa mengendarai motor? Sejak kapan? Meski agak meragu, perlahan-lahan ia mulai merasa bahagia: kekasihnya akan datang mengendarai motor dan membawakannya sop kambing. Ia mulai menanti.
          Beberapa lama kemudian, terdengar suara motor diparkir di pelataran. Si Gadis dan teman-temannya keluar. Mereka pikir yang datang adalah si Kekasih.
          Sayangnya, bukan.
          Yang datang adalah seorang perempuan. Mereka tak kenal dengan perempuan ini. Mereka mulai bertanya ia siapa, tetapi si Perempuan Asing tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya bilang, “Dia tidak datang. Ini titipan sop kambingnya untukmu.”
          Sebuah bungkusan berpindah tangan dari si Perempuan Asing ke si Gadis. Si Gadis tentu saja sedih karena ia yang dinanti tak jadi datang. Ah, ya, barangkali kecewa.
          “Ke mana dia?” tanya si Teman. Lagi-lagi si Perempuan Asing tak menjawab. Ia cenderung mengabaikan si Teman. Si Teman melanjutkan lagi, “Gadis ini kan kekasihnya. Masak ia tak jadi datang menemuinya?”
          Si Perempuan Asing tertawa mengejek. “Kekasih bagaimana? Si Lelaki itu sudah punya kekasih di Ambon. Sudah delapan tahun mereka menjalin cinta.”
          Ah, air mata lalu meluncur turun dari mata si Gadis. Tahulah kita penyebab matanya menelaga hingga ia terbangun dari tidurnya.

Barika,
          Kalau kau berpikir Gadis dalam kisah ini adalah aku, kamu benar. Aku terbangun pagi ini dengan air mata masih mengalir gara-gara mimpi begitu. Ahahaha… . Mimpi yang absurd. Selamat pagi!