Kamis, 31 Oktober 2013

Jalan Memutar

Dear Azure,
          Terus terang, saya begitu terluka ketika kamu bilang, “makin ke sini makin iri sama kamu, kaf. Tidak semua orang cukup pintar menjalani apa yang benar-benar mereka mau jalani di hidupnya.” Aku perlu menarik napas dalam-dalam bahkan untuk sekadar membacanya. Aku teringat dengan banyak orang yang mengambil “jalan memutar”, Azure. Karena di twitter tidak memungkinkan mengurai cerita, aku cerita di sini, ya. Iya.

Azure yang baik,
          Aku selalu sedih dengan konsep “jalan memutar”: kita melakukan yang dunia mau dulu sebelum kita melakukan hal sekehendak kita.
          Aku selalu sedih dengan konsep “jalan memutar”: kita perlu menjadi orang lain dulu sebelum kita menjadi kita.
          Aku selalu sedih mengingat banyak orang di luar sana yang menjalani hidup, tetapi bukan hidupnya.
          Aku selalu sedih mengingat kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang dimunculkan. Namun, itu mesti ada. Kesenjangan, masalah, mesti ada, Azure. Karena itu hidup terbit.
         
Azure yang baik,
          Setiap orang memiliki alur hidup dan pertimbangannya sendiri. Jangan iri kepada saya, jangan. Kepada orang lain pun tidak. Kalau iri membuat semangatmu bangkit, barangkali tak apa. Namun, jika iri hanya membuat hatimu karut-marut… sudah, sudah, jangan sakiti hati kita lebih dari itu.
          Mari, Azure, jika kita sekarang ini tidak menjadi yang kita inginkan, mari berjanji suatu saat kita menjadi diri sendiri. Sementara untuk mengarah ke sana jalani hidup kita dengan (berusaha) sepenuh hati.
         
(31 Oktober 2013)


Rabu, 30 Oktober 2013

Peminum Pemilih

          Aku pemilih dalam minum. Nggak semua air (air bening konteksnya) aku suka. Ada yang anta (duh, apa, ya, artinya? Em, pokoknya nggak berterima di lidahku!). Aku  bisa minum air mineral kemasan saja belum lama. Biasanya mual kalau minum air mineral. Sekarang sudah bisa, tetapi tetap saja nggak bisa glek-glek kayak minum air rumah. Itu sebab kalau bepergian aku biasa bawa air rumah.
          Aku punya cerita dengan air di tempat kerjaku. Kami pakai air minum isi ulang. Ngerti, ya, airnya diisi, kalau salah terus remed alias diulang (lu kata soaaallll?).
          Pernah suatu hari dispenser rusak. Para bapak—yang memiliki bakat terpendam memperbaiki segala—di tempat kerjaku berupaya memperbaikinya. Esok paginya, aku menemukan dispenser berada di pantry (biasanya di ruang pengajar) lengkap dengan galon berisi air nangkring di atasnya. Dengan asas “pasti dispenser udah bener” aku ambil Genti (gelasku) lantas mengisinya dan glek-glek-glek, meminum airnya.
          Wek. Aku menjulur-julurkan lidahku. Rasanya nggak enak. Em, aku pikir wajar karena rata-rata air isi ulang rasanya begitu, cuma ini lebih nggak enak.
          Aku mengoceh-ngoceh tentang rasa airnya yang aneh lalu melemparkan usul untuk bilang ke tempat air isi ulangnya.
          Tahunya apa?
          Dispenser, sih, udah bener emang, tapiiiii… air di galon itu air kamar mandi! Air diisikan ke galon untuk mengetes dispenser fungsi atau nggak!
          AAAAAKKKK… .
          Pantas pas aku ngoceh-ngoceh tentang air itu orang-orang pada ketawa aja. Huh.
          Terus, terus, di hari lain aku menemukan jentik klogat-kloget di dalam Genti. Aish!
          Ada apah inih? Kenapa akuh? Kenapaaa?
          Setelah itu, aku bawa-bawa air rumah ke tempat kerja. Sampai air isi ulang BENAR-BENAR tidak ada jentiknya lagi dan aman diminum. Caranya? Ya, lihat reaksi orang-orang. Mereka masih pada hidup. Jadi, ya aku belajar menerima lagi minum air isi ulang itu.
          Teman-temanku?
          Ya jelas ngecenginlaaah… apalagi?
          Hih.

        

Selasa, 29 Oktober 2013

Boleh Aku Nyumpahin?

          “Boleh, nggak, aku nyumpahin? Sedikiiit aja. Ban mobilnya kempes gitu.”
          Itu ucapan Mb Weye setahun yang lalu (atau lebih, ya?). Kala itu hujan dan ada mobil yang melintas di depan kami tanpa mengurangi kecepatan. Padahal hari itu hujan dan air  menggenang. Alhasil, air-air muncrat ke badan kami (maklum, badan kami tidak antiair soalnya).
          Malam ini aku teringat kata-kata Mb Weye dan mengulangi ucapannya, “Boleh aku nyumpahin sopir angkot itu? Sedikiiit saja.”
          Sepele.
          Aku diturunkan bukan pada tempat yang seharusnya. Kesal bukan main aku. Seharusnya sopir angkot itu berdedikasi, dong! Trayek dari A — B ya mesti sampai ke B. Lah ini, belum sampai B dia main mutar balik aja. Dih. Kok bisa, sih, sopir ini lulus sertifikasi sopir angkot?
          Sepele.
          Tapi, gilak! Ini bikin aku kesal! Mau naik angkot lagi nanggung, mau jalan lumayan. Awas aja, besok-besok kalau aku naik angkot dia lagi, aku ambil alih setirnya. Tau rasa! Hih.

(16 Oktober 2013)


Senin, 28 Oktober 2013

Perempuan Menonton Film India

: Barika

          Seorang perempuan sedang asyik menonton film India di televisi. Ekspresinya berubah-ubah sesuai adegan di film itu. Ia begitu menikmati hingga jendela mengabarkan bahwa mendung menggelayut di langit luar sana. Ia lantas teringat jemurannya. Ia lekas bergegas mengangkat jemurannya.
          Film India kini tanpa teman. Sendirian.

(27 Oktober 2013)


Sabtu, 26 Oktober 2013

Gara-gara Arman Dhani

          Saya nggak ngerti Arman Dhani itu siapa. Saya tahunya ia lelaki yang banyak membaca dan dengan pongahnya memamerkan bahwa ia memiliki 4000-an koleksi buku. Siapalah dia, saya tidak peduli benar. Yang jelas, saya kesal kepadanya.
          Perempuan saya jatuh cinta kepada tulisan-tulisannya, terutama tulisan sok tahunya tentang wanita. Perempuan saya bilang, “Tulisannya Dhani itu keren, Bang! Bisa bikin mata menyipit dan terbahak di tulisan yang sama. Meskipun dia tidak begitu acuh dengan kaidah bahasa, tulisannya nggak kehilangan kekuatan.”
          Perempuan saya lalu menyatakan bahwa ia tergila-gila setelah membaca ini, ini, ini, ini, belum yang lain lagi. “Aku mau dibuatkan tulisan macam begitu, Bang...,” pungkasnya.
          Ah, perempuan!
          

(26 Oktober 2013)


Selasa, 22 Oktober 2013

Perempuan Beraroma Surga

Bekasi, 19 Oktober 2013

Teruntuk Nenekku,

          Nenekku yang baik,
          kautahu, jika surga itu beraroma, kurasa aku akan mencium wangimu. Aku malah bisa percaya ada surga di telapak kakimu, membongkar monopoli surga hanya milik kaki kaum ibu. Air matamu itu, kautahu, serupa sungai-sungai bening tempat segala makhluk minum.
          Nenekku yang terpelihara hatinya,
          Hidup kita masih berjalan. Melangkahlah, Sayang. Perbesar semangat dan harapan. Allah bersamamu, bersama kita. Semangat, Sayang, semangat.
          Sekali lagi kukatakan ini kepadamu,
          Sahabat adalah kita. Jika tanganku tak kunjung mampu memelukmu, Allah selalu bisa merangkul hingga jiwamu, wahai Perempuan Beraroma Surga. Innallaha ma’ana.

Salam kecup,

Ika Fitriana


Sabtu, 19 Oktober 2013

Jumat, 18 Oktober 2013

Belajar Mengeja

          Hidup sudah siap dengan spidol di tangan. Separuh badannya menghadap papan tulis, separuhnya lagi menghadap Aku.
          “Aku, mari kita lanjut belajar mengeja,” demikian Hidup memulai.
          “Baik, Guru.”
          “Ikuti saya. ‘C’!”
          Aku mengulang, “C!”
          “I.”
          Aku mengulang, “I”
          “N.”
          Aku mengulang, “N.”
          “T.”
          Aku mengulang, “T.”
          “A.”
          Aku mengulang, “A.”
          “C-I-N-T-A. CINTA.”
          Aku mengulang, “C-I-N-T-A. CINtwjh.”
          “Ah, bukan begitu. ‘Cinta’.”
          “Cintjkdad.”
          “Ulang. ‘Cinta’.”
          “Cintlandm.”
          Begitu seterusnya. Aku tak bisa menyebut kata “cinta” dengan tepat. Entah ada apa dengan lidahnya. Konon, hingga tulisan ini dipublikasikan, Hidup masih mengajari Aku cara mengeja “cinta”.


(14 Oktober 2013)

Kamis, 17 Oktober 2013

Pakai Baju Apa?

Jumat nanti
Aku pakai baju apa?
Baju mana yang layak
membungkusku bertemu denganmu?

Baju apa?
Baju mana?

(28 Juli 2013)

Rabu, 16 Oktober 2013

Gombal Suwek

aku saiki koyo gombal suwek
dadi wong ora kanggo
arep opo
arep nyandi-nyandi
kudu njawil uwong
njaluk tulung

aku iki gombal suwek
ora enek regane
ora iso midhak ning sikile dewe

aku gombal suwek
aku musti kepiye?

paringono ngapuro, Gusti… .
nyuwun pangapunten, Gusti… .


(9 Oktober 2013)

Selasa, 15 Oktober 2013

Mencintai Tuan dari Bangsa yang (Katanya) Kalah

Sulit betul kau dicintai, Tuan.

Masih terbayang Tuan yang meradang bilang,
“Bangsa kami bangsa yang kalah.”
Kalau kaulihat di pundaknya,
ada dendam pendahulunya yang ia bawa-bawa

Apa begitu salah menjadi jawa
yang karena pendahuluku
bangsamu terluka
lalu, katakan kepadaku,
bagaimana caranya aku memasuki hatimu?

Tuan yang baik,
aku tidak tahu aku punya cukup muka untuk berharap atau tidak,
tetapi aku berharap
ketika kau memiliki keturunan nanti
turunkan kebahagiaan dan upaya meningkatkan semangat diri saja
tak perlu kaukirimkan dendam turun-temurun.
Sudah. Itu saja.


(7 Oktober 2013)

Senin, 14 Oktober 2013

Namanya Juga Kepengen

          Akhir September lalu aku kepengen naik kereta. Namun, berhubung daerah Kalimalang nggak ada jalur kereta, bingung, dong, mau berkereta ke mana aku?
          Eh, sebelumnya, “kereta” di sini bukan “mobil”—apalagi sepeda—lho, ya! Oke, lanjut.
          Terbersit ide brilian di otakku. Kebetulan tanggal 21 September 2013 ada agenda ketemu para nyonya di Rawamangun, aku merencanakan berkereta.
          Kalimalang – Rawamangun ada kereta?
          Ya, nggaklah. Nggak ada kereta dari Kalimalang ke Rawamangun. Ide brilianku adalah aku pergi ke Buaran lalu berkereta dari situ menuju Klender! Ehm, fyi, jarak antara stasiun Buaran dengan stasiun Klender cuma satu stasiun doang, sik… tapi terus kenapa? Namanya juga kepengeeen… .
          Jadi rutenya: rumah (ngangkot) – Kalimalang (ngangkot) – Stasiun Buaran (kereta) – Stasiun Klender (kereta) – Rawamangun (ngangkot). Normalnya, sih, cuma dua kali naik angkot kalau mau ke Rawamangun. :))
          Pernah aku kepengen banget naik bemo. Ini karena kecemasan bila bemo punah dan aku belum sempat merasakan naik bemo, gimana? Sayang, kan?
          Di daerahku juga nggak ada bemo. Yang dekat rumah ya di daerah Pupar, daerah rumah temanku. Singkatnya, aku (akhirnya) berhasil naik bemo setelah ngidam entah berapa lama. Itu juga terwujud karena temanku nikah dan aku pulangnya jadi bisa naik bemo. Yeay! Sempat foto-foto juga pas di bemo, cuma berhubung udah malam jadi ya gitu… gelap.
          Pernah juga aku kepengen ke monce—sebutan akrabku untuk Monas. Em, sebetulnya kalau ke monce aku ada perlu dengan diriku. Hehehe… .
          Jadilah tempo hari selepas dari rumah temanku yang di Pondok Kopi itu aku meluncur ke monce. Muterin monce sekali (dengan kecepatan 10 langkah/jam), makan pop mie (biar bisa mengulur waktu) lalu pulang. Udah gitu doang.
          Nah, sekarang aku lagi kepengen naik kereta gantung atau kereta layang (sebenernya pengennya kereta layang yang di sekitaran monce, bukan TMII) atau mobil keliling TMII. Semoga bisa terlaksana!

(1 Oktober 2013)

p.s.:

akhirnya kepengenan naik kereta layang bisa kuwujudkan tanggal 5 Oktober 2013. Nggak jadi naik kereta gantung karena aku masih ingat rasanya. Oh, ya, aku juga naik mobil keliling. Alhamdulillah, aku bahagia! :)

Minggu, 13 Oktober 2013

Makhluk Dunia Mimpi

Bagaimana jika aku sebenarnya adalah makhluk dunia mimpi?
Kau merasa aku adalah makhluk duniamu.
Kaubuat dirimu percaya aku makhluk dunia yang kauinjak ini.

Baik, baik,
aku akan berjalan, aku akan berjalan
sebagaimana kaupikir aku adalah bagian dunia
yang kausebut “dunia nyata”.


(3 Oktober 2013)

Sabtu, 12 Oktober 2013

Maaf, Aku Cuekin Kamu

maaf, Sayangku, aku cuekin kamu
biar aku bicara berdua dengan waktu

maaf, Sayang, kau menyingkir dulu
aku perlu aku

maaf, Sayang, aku nikmati itu dulu
itu Joko Pinurbo!
itu Sapardi Djoko Damono!
itu Gus Mus!

ah, Sayang, sebentar,
izinkan aku cuekin kamu dulu.


(Salihara, 5 Oktober 2013)

Jumat, 11 Oktober 2013

Karepmu Kepiye?

Karepmu kepiye?
Bukanne lungo malah manggon ning njero dodo.

Aku kudu kepiye
nek kowe malah ngendon ning kono?

Kowe sopo
aku yo ra tau
Sing nggenah
yo aku ra ngerti opo-opo
mbuh ning dodo kene
mbuh ning otak kene
mbuh ning mripat kene

Karepmu kepiye?
Nek lungo yo lungo wae kono
ojo nggowo atiku

Nek atiku kowe gowo,
aku urip kepiye?


(6 Oktober 2013)

Kamis, 10 Oktober 2013

Rabu, 09 Oktober 2013

Apa Kau Bisa Melebihi Bapakku?

Apa kau bisa melebihi bapakku?
Kalau tidak,
Mati kau!
Mati kau!
Mati kau!

Mati aku.

Mana bisa mereka mempercayakan
anak dan cucu mereka
kepada suami dan ayah macam kau?

Cepat temukan caranya!
Aku di sampingmu.


(5 Oktober 2013)

Selasa, 08 Oktober 2013

Perihal Duduk Bertiga

: tanggapan untuk tulisan Momo yang berjudul “Satu Bertiga

          Dear Momo,
          Ingatan pertamaku saat membaca tulisanmu adalah tempat dudukku ketika SMP. Aku duduk bertiga dengan temanku! Hahahaha… .
          Sekolah kami sekolah biasa saja. Di kelas kami ada beberapa orang yang duduk bertiga di bangku panjang. Salah satunya ya aku dan dua temanku. Nama mereka Nur Hasanah dan Nur Hidayati. Aku begitu senang di tengah-tengah dua cahaya (nur = cahaya) dan berada di antara kebaikan (hasanah = kebaikan) dan petunjuk (hidayat = petunjuk). Ah, ya, aku makhluk antara. XD
          Ketika itu kami senang-senang saja duduk bertiga. Tidak merasa sedih atau apa meski barangkali orang lain yang melihat kami akan jatuh iba atau bagaimana. Kami merasa wajar.
          Sekolahku sekolah biasa saja. Aku juga anak biasa saja. Sama seperti mereka yang kaupotret dan kautulis di blogmu itu.
          Momo yang baik,
          titip salamku untuk mereka, ya! Bilang kepada mereka untuk selalu semangat belajar. Beri tahu mereka bahwa hidup itu berjalan di atas roda bernama semangat dan harapan. Oh, ya, dan cinta. Itu tentu.

(6 Oktober 2013)


Senin, 07 Oktober 2013

Perihal Kampungan

: Tanggapan untuk Fadhli Amir dalam tulisan "Tidak Semua Orang Kampung Kampungan"

          Hai, Fad, ini adalah tulisan ulangku tentang “kampungan”. Sebagaimana yang sudah kuceritakan kepadamu, tulisan awalku rusak file-nya. Nggak bisa dibuka. Nggak ngerti kenapa. Barangkali memang dia nggak mau dimunculkan. Halah.
          Gini, Fad, aku nggak kepengen kata kampungan dihilangkan dari kamus seperti usulmu itu. Kenapa? Ya, kenapa emang dengannya sampai dia dihapus?
          Jika ada nilai rasa yang melekat dalam sebuah kata, menurutku, ya tanggung jawab masyarakat (alias kita), bukan malah dibebankan kepada kata.
          Membaca tulisanmu aku teringat dengan pembantu rumah tangga. Kupikir ia mendapat nasib yang serupa dengan kampungan. Atas dasar survei “selewat dan suka-suka”-ku, ada kesan hina banget di sana. Orang-orang lantas memperhalus dengan “si mbak” , dsb. Pertanyaanku: emang perlu banget begitu?
          Pada perkembangannya malah ada yang mengganti pembantu rumah tangga dengan asisten rumah tangga. Ini malah menghina, menurutku. Ya, udah, sih, pembantu rumah tangga saja. Toh, di mataku, pembantu rumah tangga sama saja dengan pembantu rektor atau bank cabang pembantu. Eh, aku curiga, deh, orang-orang yang menyebut asisten rumah tangga itu akan mengganti dengan asisten rektor atau bank cabang asisten. XD
          Fad, kautahu, tulisanmu itu kurang ajar betul. Ia mengingatkanku dengan beberapa ingatan dan opini pribadiku tentangnya. Ya, selain ingatan tentang pembantu rumah tangga, aku juga teringat dengan baby sitter. Masih di ranah yang sama dengan pembantu, sih. Gini ceritanya.
          Pada suatu hari yang cerah matahari bersinar meriah (halah!). Aku dan kawan-kawan kuliahku berkumpul di sebuah mal di Jakarta Utara yang (katanya) elit. Aku terganggu dengan perempuan-perempuan berseragam yang menunduk-nunduk dan hilir mudik mengikuti juragan kecilnya. Inferior yang diharuskan. Aku nggak suka.
          Aku lantas nyeletuk, “Kenapa, sih, baby sitter itu harus pake seragam pas ke mal gini? Kayaknya gimana banget gitu.”
          Em, maksudku, keciri banget mereka baby sitter. Kenapa nggak baju bebas aja gitu? Kan jadi sama kayak orang-orang yang lain. Aku dan teman-temanku membicarakan hal ini sambil mengunyah makanan. Pembahasan di meja makan. Aku curiga yang kami makan adalah nasib orang, bukan makanan. Duh.
          Bentar, aku minum dulu.
          … .
          Oke. Lanjut.
          Tentang baby sitter itu, berikutnya kami menemukan yang tidak berseragam, tapi ya tetap saja keciri kalau ia baby sitter. Mungkin nggak kalau yang jalan di depan dengan tangan kosong tanpa belanjaan tanpa anak sambil mengangkat dagu itu baby sitter? Huft~
          Jadi, inti cerita tentang baby sitter ini apa, ya?
          Ah, tauklah. Mungkin aku kangen sama teman kampusku. Mari kita kembali ke fokusmu saja: kampungan.
          Aku menyoroti kampungan bukan pada “seharusnya kata itu dihilangkan (eh, babu masih ada atau arkaik? Eh, maap, fokus!)”, melainkan kepada sikap kita terhadap kata itu. Konsep di pikiran. Aku setuju kalau ada upaya penetralan terhadap nilai rasa negatif pada kata itu. Aku sendiri bukan orang yang selalu bisa menetralkan nilai rasa, sih, masih harus banyak belajaaaar… .
          Udah. Gitu aja.

p.s.:
pernah ada siswa yang heran bukan main setelah tahu aku dipanggil “Mbak” di rumah. Ngerti, kan, konteks “Mbak” yang mereka tahu itu “pembantu”.

(5 Oktober 2013)


Minggu, 06 Oktober 2013

cinta dan rindu dalam kata

cinta dan rindu meronta
merasa terkungkung dalam kata
merasa mereka cuma
padahal bisa jadi segala

cinta dan rindu di dalam kata
apa kamu bisa percaya?
apa sebaiknya kita percaya?

apa itu sebaiknya?

(2 Oktober 2013)


Jumat, 04 Oktober 2013

barangkali

Barangkali kamu tak mengerti
Barangkali kamu tak memahami
Barangkali kamu tak mengetahui

Tenang saja
aku tak memaksamu mengerti,
aku tak memaksamu memahami,
aku tak memaksamu mengetahui
tentang hati yang telah jatuh
kepadamu.

(25 Juli 2013)

Kamis, 03 Oktober 2013

Ismaya

          DOK-DOK-DOK!
          Mereka tidak sabar. “BUKA! BUKA PINTUNYA!”
          Aku menatap wajah mereka. Para serigala lapar yang pemarah.
          “BUKA!”
          “Telanjang dia! Makanya nggak berani keluar mobilnya!” seru serigala hitam yang berdiri dekat spion. Ia tersenyum miring. Barangkali di otaknya ada sebuah adegan lucu hingga membuatnya tersenyum begitu.
          “Tanggung jawab lu! Itu tukang bubur lu tabrak gitu aja. Baru keluar pula dia! Tanggung jawab!” teriak yang berpeci—entah seberapa serigala dia.
          Aku Ismaya. Cantik. Suka telanjang tidak hanya di depan kaca, tetapi di mana saja. Semakin dinikmati banyak mata, semakin bagus. Terlalu sayang jika tubuhku hanya untuk satu lelaki. Aku suka dipuja.
          Perlahan, kubuka pintu mobilku. Aku berdiri di atas stiletto merahku lalu berdiri di samping mobil dengan satu tangan berkacak pinggang. Ah, ini salah. Kuturunkan tanganku. Aku mesti terlihat takut agar para serigala itu makin beringas dan kehilangan kendali atas diri mereka dan si kecil di balik celana mereka menghunus liar. Ya, ya, begitu. Kuteduhkan mataku. Aku berpikir aku takut.
          “Kenapa lu? Ketakutan, ha?”
          “Bawa ke kantor polisi!”
          “Gila lu, ya? Telanjang di mana-mana!”
          “Nabrak orang lagi!”
          “Mabok lu, ya?”
          Ah, ya, blablabla. Kayak aku peduli saja. Bawa aku ke polisi. Bawa aku ke menteri, ke presiden, ke mana saja. Kau akan tahu, mereka tak bisa menang kala melihat gumpalan daging di dadaku atau segitiga tumpul di antara dua pahaku atau bahkan ada yang sudah jatuh saat mataku berkedip pelan.
          Aku Ismaya. Cantik. Suka dipuja.


Rabu, 02 Oktober 2013

Mari Bahagia!

Kebahagiaanku jauh lebih rutin daripada ketidakbahagiaanku. (Aprie Janti)

dibuatkan bekal makan siang oleh orang tua
aku bahagia

ditemani adik ke mana-mana
aku bahagia

bertemu dan bertukar cerita dengan kawan
aku bahagia

melamun hingga ketiduran di angkot
aku bahagia

membuat postingan blog
aku bahagia

menonton pertunjukan
aku bahagia

          patah hati, aku tidak bahagia,
          tetapi… .

aku tidak patah hati tiap hari atau sering
seperti bekal makan siang
seperti ditemani ke mana-mana
seperti bertukar cerita
seperti melamun di angkot
seperti menulis di blog
seperti menonton pertunjukan.

aku punya alasan untuk tidak bahagia,
tetapi aku memiliki alasan lebih banyak untuk bahagia.

Jadi,
mari bahagia! *\(^^)/*

 (29 September 2013)


Tulisan ini dikembangkan (sedikit) dari kicauan Aprie: