Rabu, 31 Juli 2013

Menjadi Botak


tak-tik-tuk, tak-tik-tuk
jam berdetak-berdetik-berdetuk
bagai palu ketuk-ketuk
ya, aku tahu dan aku sedang berpikir!

tak-tik-tuk, tak-tik-tuk
aku sibuk belajar
demi nilai sembilan
yang ada dalam angan

tak-tik-tuk, tak-tik-tuk
di hadapanku soal ujian
sulit benar aku mencena
karena semalam tak belajar

tak-tik-tuk, tak-tik-tuk
kupegangi kepalaku
ingin rasa kucopot dan kuletakkan di meja
untuk kulihat isinya

tak-tik-tuk, tak-tik-tuk
terasa sesuatu seperti merayap-rayap di kepalaku
mata kupejam, tangan berjalan
telusuri kepala
dan aku merasa menjadi botak

Ah, tidak!

(2 Juni 2004)

Selasa, 30 Juli 2013

Senin, 29 Juli 2013

Tentang yang Asing

Tentang yang asing
Asyik merasuk
Menyelami menyalami
Diri dan gelombang

Tentang yang asing
Berhenti memperkarakan kapan
Membangun pondokan
Dalam remah-remah

Tentang yang asing
Tersenyum lumayan
Menarikan lagu riang
Mengajak jalan-jalan ke bulan

Tentang yang asing
Yang semula tak bernama
Tapi aku tahu dia
Telah berbunga.


Sabtu, 27 Juli 2013

Pada Kata yang Telanjang

: Evi Sri Rezeki
Pada kata yang telanjang
jiwa sudah terbang
berlomba dengan angan
mencapai sama tujuan

Sudah, sudah
Jangan repot mencari arti
Bukankah semua makna
sudah tergelar
sejak semula
bahkan sejak kita belum bersua?


Semesta sudah mengabarkan semuanya.

Rabu, 24 Juli 2013

Dari Tempat Tinggi

Dari tempat tinggi
Ia melihat orang lalu-lalang di bawah

Dari tempat tinggi
Ia melihat yang tak terjangkau penglihatan
Orang di bawah.

Selasa, 23 Juli 2013

Jatuh Cinta Sendirian (1)

          Tanggal 22 Juli 2013. Pukul 00.43 waktu Ides (ponselku). Aku begitu butuh menyingkirkan selimut yang sudah membungkus tubuh, mengambil putcaw (buku sketsa yang kujadikan buku coretan), dan meraih pensilku (tak kuberi nama karena—seperti biasa—itu pensil adopsi, hehehe). Aku perlu membalas tulisan Aprie yang ini.
          Hei, Aprie,
          Kamu bilang kamu tidak setertarik aku saat menikmati naskah kuno itu, ha?
          Oh, ya, ampun. Jadi, aku jatuh cinta sendirian? Aku-jatuh-cinta-sendirian (diulang biar efeknya kayak sinetron)? Kamu nggak nemenin aku jatuh? Oh, oh. OH.
          Em, yah, memang, aku harus akui, jelas banget kamu lebih cinta gambar. Sejak pertama masuk ke ruang pameran saja, yang kautekuni malah ilustrasi naskah yang dipajang di dinding,  bukan naskahnya.
          Kembali ke jatuh cinta, ya, aku jatuh cinta dengan naskah-naskah itu. Cinta buta, mungkin, karena aku nggak ngerti isinya apa dan seperti yang sudah kaubocorkan di tulisanmu, aku diajari baca oleh seorang bapak yang kukira panitia pameran naskah kuno Pecenongan itu.
          Kamu tahu, naskah kuno (em, naskah yang dipamerin sebenernya nggak se-“kuno” itu, sih..) menjadi salah satu hal yang bikin aku kepengin mengunjungi Leiden. Ya, seperti yang pernah kubilang di sini, Leiden kota keduaku. Aku pengen lihat naskah kuno yang ada di sana!
         
          Oh, ya, kamu bisa ngerasain aku tertarik dengan naskah ketika di sana, ya, Prie? Ketara banget, ya?
          Hahaha… aku memang naskah yang terbuka. Siapa pun bisa membaca. Aku mungkin kelewat senang saat datang ke pameran itu. Sayangnya, kita datang di hari terakhir, coba lebih awal, pasti dapat banyak buku sastra.
          Aprie,
          Senang rasanya ada orang yang seminat (oke, mirip deh minatnya, eh, mau nemenin deh minimal) terhadap naskah kuno. Aku jadi bisa berbagi keseruan. Hehehehe… .
          Jangan kapok, ya! Kita jalan-jalan lagi! (9’^’)9

via ponselku
Ini foto-foto jepretanku saat mengunjungi pameran:
"Syair Buah-buahan"

Gambar Jin yang sudah berbaju. Wayang pun ada yang berbaju. Mungkin terpengaruh Belanda?

bahkan zaman itu (1800-an) M Bakir udah gambar naga

M Bakir juga menggunakan ilustrasi burung phoenix

keroncong
gayanya Aprie waktu membaca naskah. Lihat jaraknya dengan naskah. Oh.

P.s.:

Hai, pembaca yang budiman dan padiman, barangkali “jatuh cinta sendirian” yang kaumau yang model begini? Silakan diklik dan menikmati. :) 

Jatuh Cinta Sendirian (2)

Kurasa,
Bukan jatuh cinta sendirian
Hanya
Yang sedang bersamamu itu
Bukan orang yang tepat kaujatuhi cinta

Jika
Memang ia
Pasti juga merasa

Mana ada jatuh cinta sendirian?

Tidak jatuh bersamaan, mungkin.

Jumat, 19 Juli 2013

Masih Untung


Seseorang tertabrak motor,
kaki patah motor hancur,
untung tidak mati.

(5 September 2005)

Kamis, 18 Juli 2013

Sudah Sembuh, Nona?

: HN

Kulihat kamu asyik bernyanyi
Apa sakitmu sudah sembuh, Nona?

Memiliki yang bukan milik
Apa kini kau menyadari itu, Nona?

Memperluas belajar tidak hanya dari tembok sekolah
Apa kau sudah ada kemajuan, Nona?

Apa kau sudah mengembalikan
kebanggaan
yang bukan punyamu,

Nona?

Rabu, 17 Juli 2013

Syukur

          Syukur.
          Yang kebayang pas denger, eh, baca kata syukur adalah obrolan (kalo pake kata “diskusi” kayaknya berat; em, meski topik besarnya emang berat, sik..) bareng BarikatulHikmah di Kedai Lentera hari Minggu lalu. Kala itu, sambil menanti peserta Malam Puisi Jakarta yang lain yang belum datang, kami membahas mulai dari karya-karya Gus Mus hingga pengalaman Ika—sapaan akrab Barikatul Hikmah—berpuasa di negeri orang.
          Sebelum pertemuan malam itu, aku sudah membaca tulisan Ika di sini. Perasaan yang kemudian muncul setelah membaca tulisan itu adalah rasa syukur. Bener, deh! Aku merasa enak betul kita puasa di negeri sendiri yang kultur dominannya Islam.
          Mana pernah sebelumnya aku bayangin susahnya sahur?
          Mana pernah sebelumnya aku khawatir ada babi dalam makananku atau nggak?
          Mana pernah sebelumnya aku bayangkan di luar sana ada yang terpaksa shalat di dalam toilet?
          Mana pernah sebelumnya aku bayangin harus dipinggirin di bandara, dipisah dari penumpang lain, dan jadi tontonan orang sebandara gara-gara bawa gunting gerigi—berjilbab pula?
          Mana pernah sebelumnya aku bayangin ada muallaf Amerika yang datang ke Indonesia mempertanyakan tukang ojek—yang notabene bukan muhrim—dan “astaghfirullah”-nya perempuan ber-tank top + rok mini di angkot?
          Mana pernah sebelumnya aku bayangin aku dalam keadaan haus setelah makan sahur dan perlu minum, tetapi minumanku raib, yang hanya ada bir?
          Mana pernah sebelumnya aku… ah, ya, jelas tidak pernah sebelumnya kebayang.

Sabtu, 13 Juli 2013

Kautuntaskan Dulu

Kautuntaskan dulu
itu penasaranmu

Kausembuhkan dulu
itu sakit hatimu

Kauhabiskan dulu
itu cemburumu

Kauselesaikan dulu
itu cintamu pada masa lalu


lalu mari kita bertemu.

Jumat, 12 Juli 2013

Percakapan Ibu-ibu

          “Bu, Bu, Si Hafiz bulan besok kan mau nikah,” Mama Nadia bertukar kabar dengan tetangganya.
          “Ah, ya?” Bu Yati, lawan bicaranya, tak percaya.
          “Bener, Bu,” sahut Mama Nadia meyakinkan. “Dijodohkan lagi.”
          “Hah? Dijodohkan?”
          “Iya.”
          “Emang umurnya berapa, sih?”
          “Emm, dua enam apa, ya?”
          “Walah.”
          “Iya. Zaman begini mau aja, ya, Bu, dijodohkan. Mana anak lelaki.”

          “Yah, namanya juga jodoh, Mama Nadia. Siapa yang tahu datangnya kapan dan gimana…,” sambil berkata begitu pandangan Bu Yati mengawang, teringat anak perempuannya yang masih melajang di usia 28. Ia mulai resah.

Sabtu, 06 Juli 2013

Yang Belum Selesai

        Aku melihatnya di antara sekumpulan remaja: teman-temanku. Kami sedang merayakan entah apa. Aku tidak bisa mengingat dengan jelas.
          Ia di sana. Dianugerahi tubuh tinggi membuat ia tampak lebih menonjol daripada teman-teman yang lain. Ternyata, betapa aku merindukannya!
          Sementara aku terpesona dengan pria jangkung itu, ada yang menarik-narik tanganku. Kucari tahu siapa yang menarikku.
          “Halo,” seorang gadis kecil bermuka bundar menyapaku. Senyum manis menyertai sapaannya.
          Aku membalas senyumnya. Kurasa, cukup mudah untuk membalas senyum siapa pun saat aku sedang berbunga-bunga.
          “Apa kamu menyukainya?” tanyanya.
          Aku ternganga. “Ha?”
          “Laki-laki itu,” kataya dengan mata yang mengarah ke pria jangkung. “Apa kamu menyukainya?”
          Bagaimana ia bisa tahu? “Hahahaha… . Kakak nggak ngerti maksud kamu apa, Adik kecil,” kataku sambil menjawil pipinya.
          Dengan isyarat tangannya, ia memintaku menunduk, sejajar dengan dirinya. Aku menuruti permintaannya dan membungkuk hingga kepala kami sejajar.
          “Kamu harus bilang apa yang kamu rasa kepadanya,” katanya menasihati, tidak sesuai dengan usia kelihatannya. Kutaksir ia berumur 5 – 6 tahun. “Jangan biarkan ia pergi tanpa tahu perasaanmu.”
          Mendengar itu aku hanya tergelak. Aku dinasihati anak kecil! Aku tak ambil pusing dengan ucapannya. Aku meninggalkan gadis kecil itu dan berjalan ke arah teman-temanku.
          Sesampainya di tengah teman-temanku, aku pun terlibat obrolan dan tawa renyah mereka. Namun, itu tidak lama. Satu per satu mereka berlalu dari situ. Kami melambaikan tangan dan berjanji akan berjumpa lagi. Janji kecil yang barangkali nantinya sulit ditepati.
          Ia termasuk salah seorang yang tinggal. Melihat ada kesempatan untuk bicara dengannya, aku bimbang: akan kuambil kesempatan ini dan bicara atau membiarkannya pergi. Aku ingat si Gadis Kecil bermuka bundar.
          … .
          Ia masih bicara dengan seorang kawan, lelaki juga. Pembicaraan yang hangat. Ia beberapa kali tertawa. Aku maju dua langkah… lalu mundur tiga langkah lantas berbalik dan menjauh dari tempatnya—padahal ia hanya lima langkah di hadapanku!
          Di depan sana, arah aku menuju, si Gadis Kecil menangis. Kuhampiri ia. “Kenapa?” tanyaku saat sudah di dekatnya.
          “Kamu yang kenapa?” Sesaat aku tak mengerti pertanyaannya hingga ia melanjutkan, “Kenapa kamu tak bicara kepadanya?”
          “Eng.. itu karena… .”
          “Kamu harus bicara kepadanya! Kamu harus bicara kepadanya! Huaaaa… .” Bulir air mata membasahi pipinya yang gembil. Aku dilanda kepanikan karena orang-orang di sekitar situ melihat ke arahku.
          Demi meredakan tangisnya, kujawab ia, “Baik, baik. Nanti aku bicara kepadanya.”
        Sementara aku membujuknya, terdengar bunyi “kring-kring” sepeda. Tangis si Gadis Kecil mereda. Senyum samar mulai terbit di wajahnya. Matanya berbinar melihat orang yang datang bersepeda itu.
          “Hai!”
          Tak mungkin aku tak mengenali suara itu. Suara Si Jangkung. Perlahan aku balik badan. Ia tersenyum. 
          “Eh, hai!” sahutku grogi.
          “Mau bareng?”
       “Eh, nggak usah—AWW!” Sebuah cubitan mendarat di kulit tangan. Si Gadis Kecil pelakunya. Ia mungkin memprotes jawabanku. Aku teringat janjiku kepada si Gadis Kecil. Buru-buru kuralat kata-kataku, “Eh, emang kita searah?”
          “Emm…,” ia tampak berpikir, “udahlah, yang penting bareng aja.”
      Aku sempat ragu sebentar lalu kataku, “Enggg, oke. Lagipula, ada yang mau aku bilang… .”
          Tak lama kami pun melaju di atas sepeda itu. Kring-kring… .

          

Seni Menanti

          “Aku nggak ngerti, deh!” Kukuh berkata sambil mematikan mesin mobilnya. “Hobi banget antre buku gratis.”
          “Aduh, Sayang, itulah seninya menanti,” jawabku ke arahnya.
          “Apanya yang seru dari menanti?”
         “Hahaha…,” tawaku berderai. Aku sudah tahu ia akan protes-protes macam begini. “Kamu, sebagai pihak yang dinanti, tentu nggak ngerti keindahan menanti.”
          “Hei, kamu lagi nyindir aku, ya?”
        “Ih, ge-er. Aku cuma ngomong, kamu aja yang ngerasa tersindir.” Aku turun dari mobil lalu menutup pintunya.
          Belum puas, Kukuh menjejeri langkahku dan berkata, “Kamu kan tahu risikonya, Si… .”
       Aku memotong cepat, “Bolak-balik Jakarta – Bremen, jalanin perusahaan keluarga sambil kuliah. Ya, kurasa aku tahu itu.”
          “Nah… .”
          “Tadi kan yang aku omongin antre buku gratis… .”
          “…dan kamu ngaitin dengan aku, Si.”
          “Kan aku bilang kamu kegeeran.”
          “Tapi emang gitu, kan?”
      Bagi orang yang tidak mengenal kami, barangkali sudah berpikir kami sedang bertengkar. Sebenarnya tidak. Beginilah cara kami berkomunikasi. Beginilah ungkapan rindu kami setelah berbulan-bulan tidak berjumpa.   
          “Duhai, Kukuh-kukuh yang lucu… .”
          “…itu kupu-kupu!”
          Aku mengabaikan protesnya. “Ngantre buku gratis itu seni. Lebih puas ketika kita berhasil mendapatkan buku itu setelah menanti.”
          “Kamu kan bisa tinggal beli aja.”
          “Iya, tapi kan nggak seru… ,” aku merajuk.
          “Kamu aneh, ih!”
          “Makanya kamu suka. Hahahaha… .”
         Sebuah sentuhan ringan mendarat di kepalaku. Dia tersenyum lalu katanya, “Tapi nanti aku nggak… .”
          “…antre. Iya. Terserah. Kamu boleh, deh, keliling-keliling sana.”
          Sementara mengobrol, kami hampir tidak menyadari kami hampir sampai. Sebuah toko buku gabungan dua atau tiga ruko dengan warna dominan merah menyambut kami. 
      Tumpukan buku begitu menggiurkan. Aku sering mengkhayal bisa memiliki perpustakaan dan toko buku sendiri. Pasti menyenangkan.
          “Aku pikir kamu bakal jadi orang yang antre di urutan pertama,” ujar Kukuh. Matanya mengarah ke satu titik lalu melanjutkan katanya, “ternyata udah ada yang antre. Padahal baru jam setengah 11.” Ia mengecek jam tangannya.
      “Ini Rectoverso, Kukuh. Rectoverso!” seruku. “Siapa yang nggak kepengen buku gretong? Rectoverso pula!”
          “Ya, tapi kan dibagiinnya masih nanti jam 1.”
         “Pasti banyak banget, nih, yang antre. Aku langsung antre aja, ah!” Aku mempercepat langkah menuju tempat antre.
          “Kalau buku aja, semangat banget!” gumam Kukuh.
       “Hei, aku denger, lho!” sahutku, berbalik sekilas ke hadapannya lalu berjalan lagi memunggunginya. “Sana kalau mau ke bagian otomotif atau apa.”
          “Aku jauh-jauh dari Jerman cuma untuk ditinggal,” gumamnya lagi.

          Aku hanya tersenyum kecil sambil terus berjalan menuju antrean. 
couple_love_by_morinc-d3j1stp
gambar diambil dari sini

(Tulisan ini diikutsertakan dalam #ProyekCinta @BintangBerkisah)

Jumat, 05 Juli 2013

Ada Perlu Apa Denganku?

Ada perlu apa denganku?

Tadi malam kamu bela-belain
datang ke mimpiku.

Ada apa?
Ada perlu apa denganku?
Sepertinya mendesak
hingga rela menelusup ke mimpi.

… .
Ah, semoga kamu baik-baik saja.
Semoga kamu bahagia.

Kamis, 04 Juli 2013

Aku Lagi Bosan

Aku lagi bosan.
Aku jempalitan.
Ke sana ketemu kenangan,
ke sini buram masa depan.

Aku lagi bosan
main kata-kataan.

Aku lagi bosan
tulis puisi
tulis tweet
nyinyir terus-terusan.

Aku lagi bosan.

Sendirian.